ASKETISME sebuah REVIEW BUKU “THE PROTESTANT ETHIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISME” KARYA MAX WEBER

ASKETISME

Oleh: Taufiq Hidayatillah[1]

 

         Sesuatu yang menggelikan bila agama dikorelasikan dengan perilaku sosial yang eksistensinya tidak bisa dielakkan dari fenomena-fenomena yang terjadi. Agama (doktrin) memiliki korelasi positif dengan tindakan sosial individu dalam masyarakat. Ini artinya agama berfungsi menjadi motif sosial individu dalam berinteraksi sosial. Tindakan sosial akan tetap menghadirkan dan mengarahkan seseorang untuk menuju kepada sesuatu yang trasedental. Dalam bukunya Max Weber “The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalisme” dalam bab V diterangkan bahwa agama menjadi pendorong, motivasi dan spirit dari kapitalisme dalam melakukan segala kegiatan ekonomi sekaligus menjadi etika dan doktrin yang berlaku di Eropa. Jadi untuk memahami secara psikososial bagaimana motif suatu individu dalam berinteraksi sosial di masyarakat, terutama dengan aktivitas ekonominya., maka asketisme menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mewujudkannya menjadi sebuah konsep yang harus di taati oleh pemeluk protestan agar diakui keshalehannya.

       Weber meletakkan Protestan asketis sebagai “suatu kontribusi terhadap pemahaman atas masalah-masalah umum di mana ide menjadi kekuatan efektif dalam sejarah”. Weber tampak sengaja ingin meletakkan “kekuatan ide” sebagai wacana tandingan atas doktrin materialisme sejarah Marx, yang melihat ekonomi sebagai faktor determinan dalam perubahan sejarah. Bagaimana ide dan keyakinan di antara protestan asketis (Calvinis, Pietis, dan sekte) menjadi kekuatan-kekuatan efektif dalam menumbuhkan spirit kapitalisme. Weber lalu menunjuk fakta empiris: mereka yang menjadi industriwan, pengusaha, ahli keuangan, dan tenaga kerja yang cakap di bidang industri lainnya, ternyata jumlahnya jauh lebih besar Protestan ketimbang Katolik. Yang terakhir ini malah sering diasosiasikan dengan pekerja kasar dan bawahan. Tingginya pertumbuhan aktivitas kapitalisme juga lazim terjadi di antara gereja protestan dan Calvinis Perancis, Belanda, dan puritan Inggris. Dalam menanggapi perilaku asketis ini terjadi perbedaan prinsip antara kaum puritan dan kaum Quaker. Kaum puritan yang fanatik terhadap peraturan raja dengan liburnya hari Minggu pada waktu kebaktian Gereja. Kaum puritan juga tidak menyukai olahraga, tetapi kaum Quaker menerima olahraga sebagai salah satu dari prinsip itu. Olahraga diterima sebagai kebutuhan untuk rekreasi sebagai sarana kesehatan fisik. Tetapi olahraga yang hanya dipakai sebagai sarana mencari kesenangan belaka, kesombongan akan ditolak keras.

       Pada riset studi kasusnya di Gereja Calvin dalam hubungannya dengan kemunculan kapitalisme, Weber melihat secara teoritis bahwa sumber asketisme yang lahir dari kegelisahan terhadap doktrin takdir ganda dalam Gereja Calvinis di kalangan orang-orang Protestan mendorong etos kerja duniawi yang kuat. Karena itu orang dapat memperoleh keselamatan atau celaka dari Tuhan tergantung dari kasih Tuhan yang diwujudkan tidak dalam bentuk doa atau sakramen gereja, melainkan etos kerja individu itu sendiri di dunia yang “seolah-olah” ia memperoleh keselamatan dengan penguatan karakter moral (asketisme) yang ditunjukkan dari aktivitas keduniaan ini. Jadi asketisme individu (keshalehan) inilah yang mendorong tindakan sosialnya (kerja keras) untuk memperoleh kasih sayang Tuhan (keselamatan) di dunia dan akhirat, sehingga menghasilkan suatu kekuatan dan dampak dari kapitalisme. Oleh karena itu, bagi Weber tindakan sosial yang lahir dari orientasi individu yang mistik maupun individu yang utilitarian tidak akan menghasilkan tindakan sosial yang mampu menghadapi dunia (yang tidak shaleh) ini.

       Perlu diketahui bahwa tidak ada etika ekonomi yang semata-mata ditentukan oleh agama. Etika kerja dalam protestan yang di dominasi oleh agama menjadikan pengaruh yang besar terhadap dunia ekonomi. Dalam etika, kekayaan tidak bersifat baik jika hal itu merupakan sebuah dorongan dalam suatu godaan menjadi sikap yang penuh dengan kemalasan dan kenikmatan duniawi yang penuh dengan dosa. Pemeluk protestan mengamalkan nilai-nilai pemikiran calvinis dan asketis dalam kehidupan ekonominya sehari-hari. Dorongannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah bersifat manusiawi, akan tetapi yang menentukan tingkat kemakmuran yang dicapai seseorang lebih ditentukan oleh sikap dan perilaku orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perilaku dalam aktivitas ekonominya di Eropa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang telah mengakar kuat yakni etika protestan. Sehingga agama berjasa besar atas perkembangan dan pengaruh kapitalisme di Eropa.

       Salah satu elemen-elemen fundamental dari semangat kapitalisme adalah perilaku rasional yang didasarkan kepada panggilan-panggilan Tuhan yang terlahir dari askese Kristen. Weber mendeskripsikan bahwa dunia dan isinya adalah pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kerja dianggap sebagai panggilan Tuhan yang bersifat mutlak, suci dengan memanfaatkan dunia tersebut dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah menciptakan dunia dan isinya. Suatu hal bodoh jika terjerumus akan godaan daging. Intinya “harus melakukan suatu pekerjaan” entah apapun itu. Oleh karena itu membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan sangat mematikan. Jika penganut protestan tidak mau bekerja atau malas bekerja maka sebenarnya menjadi dosa tersendiri bagi pengikut protestan menolak Tuhan dalam kehidupannya. Ketakutan akan dosa yang berdampingan dengan kepentingan produktifitas inilah yang menjadi nilai dasar dan fundamental dari etika protestan. Dengan kata lain, ketaatan trandensial penganut protestan dapat diukur dari gairah dan etos kerja yang dimilikinya. Semakin banyak harta yang dimiliki, maka semakin tebal keimanannya pada Tuhan. Begitu juga sebaliknya semakin sedikit harta yang dimiliki, maka dapat di tegaskan bahwa keimanannya pada Tuhan juga rendah. Logika inilah yang menjadi asumsi sekaligus membawa korelasi positif antara ketaatan dan kemampuan ekonomis yang dimiliki oleh protestanisme.

       Weber juga menambahkan bahwa kapitalisme di Eropa dapat berkembang karena nilai-nilai asketis dalam doktrin protestan. Doktrin-doktrin ini didominasi oleh khotbah-khotbah keagamaan yang sangat berapi-api tentang bagaimana konsep kerja yang baik. khotbah-khotbah itu berisikan bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan makan apabila mereka tidak bekerja. Bekerja merupakan panggilan Tuhan yang harus dan wajib dilaksanakan. Oleh karena itu bekerja merupakan asketis yang disetujui untuk memuliakan Tuhan. Pemikiran untuk tidak cepat puas dengan keberhasilan yang telah dicapai adalah asumsi dasar dari pemikiran ini. Dalam pandangan Weber tentang relasi antara kapitalisme dan agama protestan ini adalah kapitalisme yang didasarkan bukan pada keinginan untuk mengumpulkan keuntungan semata. Namun merupakan sebuah aktivitas rasional yang menekankan akan order atau keteraturan, disiplin, hirarki dalam sebuah organisasi.

       Sebuah pemikiran Weber adalah seharusnya kapitalisme tidak hanya mementingkan harta dan kekayaan saja dalam mencapai suatu kebahagiaan, karena tidak selamanya kebahagiaan ditentukan secara material dari kekayaan yang dimiliki seseorang. Walaupun sebenarnya dalam konteks spirit kapitalisme yang dimiliki protestan sangat wajar. Pengumpulan dan penumpukan harta sebanyak-banyaknya bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama, akan tetapi hal yang terpenting adalah bagaimana suatu keselamatan mampu didapat dengan pengumpulan kekayaan tersebut. Artinya dari besar dan banyaknya kekayaan adalah untuk kebahagiaan bathin dari pemiliknya, bukan malah sebaliknya yaitu kekayaan itu sendiri. Kekayaan material yang didapat sebagai hasil dari usaha tersebut bukanlah tujuan inti dari etos kerja, melainkan hanya sebagai konsekwensi logis semata karena telah bekerja secara maksimal.

       Yang menjadi landasan dasar dalam etos kerja adalah bagaimana untuk mengatasi berbagai kecemasan. Rasa takut, cemas, gundah, risau dan galau jika tetap berpangku tangan terhadap orang lain. Maka pada dasarnya berarti mereka telah melanggar perintah tersebut. Kekayaan yang didapatkan diyakini bahwa bukan karena kerja keras yang telah mereka lakukan, akan tetapi semata-mata hanya sebagai hasil dari efek samping yang tidak disengaja atas kerja keras tersebut. Inti dari hasil ahirnya adalah mencapai keberhasilan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan bagaimana keberhasilan mencapai sesuatu dengan mereduksi atau menghilangkan kegelisahan bathin yang terjadi pada diri mereka sendiri. Jadi perlu ditekankan yang menjadi orientasi utama dari bekerja keras bukanlah kekayaan, melainkan kebahagiaan dalam pencapaian bathinlah yang menjadi orientasi pokok. Karena kembali pada tujuan awalnya yaitu kebahagiaan bathin.


[1] Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Sosiologi Agama

5 responses to “ASKETISME sebuah REVIEW BUKU “THE PROTESTANT ETHIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISME” KARYA MAX WEBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s