Cara Download Video Youtube

Banyak cara untuk mendownload video di Youtube:

1. Plugin Firefox

  1. Buka browser firefox
  2. Tekan ctrl+shift+A
  3. Search plugin Downloadhelper, install dan restart browser.
  4. pergi ke youtube, cari video yang ingin di download, Play Video nanti dipojok sebelah kiri akan muncul gelembung berwarna hijau kuning dan merah, tekan arah panah ke bawah setelah itu akan terlihat tempat untuk mengambil video dalam berbagai jenis file dan ukuran. Seperti gambar dibawah ini.

Image

2. Extension Chrome

  1. Buka Google Chrome anda browsing  http://www.chromeextensions.org/utilities/chrome-youtube-downloader/. untuk lebih enak seach saja sesuka hati dengan nama “download video”.
  2. Untuk menambahkan Extension pada Google Chrome anda klik Add to Chrome.
  3. ketika muncul peringatan “menambahkan ekstensi baru akanmembahayakan komputer anda”. Klik continue saja.
  4. Setelah itu muncul jendela konfirmasi pemasangan Extensi “install”, lalu klik Install
  5. selesai. pergi ke youtube dan klik untuk mendownload.

3. Mengganti Youtube dengan Voobys

  1. Pastikan komputer sudah terinstal java. Jika belum. Download java disini!
  2. Install java yang sudah didownload
  3. setelah java terpasang, Buka video yang ingin download dari YouTube
  4. Rubahlah alamat video di browser  youtube menjadi voobys. contoh:
    http://youtube/xxx/xxxx menjadi http://voobys/xxx/xxxx
  5. Tunggu sampai keluar “dowload”.

4. Keepvid

  1. Copy link video youtube yang ingin didownload
  2. pergi ke alamat http//www.keepvid.com
  3. Paste link yg sudah di copy
  4. Pilih format video yang akan didownload

5. Browser Maxthon

  1. Download browser Maxthon (klik)
  2. pergi ke youtube dan download
  3. kehebatan dari browser Maxthon dalam hal ini terdapat downloader otomatis ketika install pertama kali. Tidak hanya itu, Maxthon bisa mendownload video di situs-situs lain.

6.  IDM (Internet Download Manager)

  1. tidak usah diterangin deh, mungkin semuanya sudah ngerti.

6.  Youtube Application

  1. Download aplikasi YouTube Downloader (free) » http://youtubedownload.altervista.org/
  2. Install
  3. Ambil alamat URL video YouTube yang akan di download
  4. Paste YouTube Downloader pada kotak URL yang disediakan
  5. Pilih format (download quality) HQ 360p (flv)
  6. Pilih folder tempat menyimpan hasil download video.
  7. Klik “Download”

====> masih banyak cara yg lain untuk sementara ini saja dulu 😀

Kajian Fiqh Kritis

    Dalam diskusi masalah Fiqh, selalu saja terjadi perdebatan. Saya dan teman-teman dalam suatu forum diskusi masalah fiqh menemukan kejanggalan dalam kitab Fath Qarib (atau sering juga dinamakan kitab Taqrib). Kejanggalan tersebut adalah masalah mengenai fasal “Nawafidhul Wudhu” (sesuatu yang dapat membatalkan wudhu). Salah satu perdebatan kita adalah tentang ‎”salah satu yg membatalkan wudhu seperti menyentuh farj baik milik sendiri maupun orang lain, kecil atau besar, tua maupun muda” semuanya dapat menjadi batal. Menyentuh alat kelamin baik itu disengaja maupun tidak dapat membatalkan wudhu. Begitu juga menyentuh alat kelamin orang lain dapat membatalkan wudhu, tidak peduli dia masih anak-anak maupun sudah dewasa, baik sudah tua maupun masih muda.

    Setelah kita kaji bersama ternyata kejanggalan tersebut semakin nyata. pernyataan bahwa menyentuh Farj milik sendiri, it’s Ok, dapat membatalkan wudhu. Tetapi keanehannya adalah bagaimana ceritanya jika menyentuh Farj milik orang lain??? nah loh bkin galau kan….
*gak sengaja menyentuh Farj orng lain? #gak wajar bgt
*apa ada, orang (berwudhu) mau menyentuh Farj (apalagi kejar-kejaran) orang lain yg tidak berpakaian? #gak ada kerjaan banget
*apa ada orang (berwudhu) terobsesi dg Farj orang lain hingga ia ingin menyentuhnya? #biasanya seniman nih.. butuh
*apakah ada yg mau Farj’y d pegang ma orng lain??? #ini nih yang lebih gila
*atau berlarian d depan orng (berwudhu) kmudian bilang “hey, sentuh Farj gw donk…” lbih parah dari yg atas. hahahaha…
lalu cerita bagaimana???

Memaknai Tradisi Yasinan

PENDAHULUAN

         Dalam kehidupan sehari-hari agama sudah menjadi kebutuhan bagi manusia. Agama berperan penting dalam memberi arah menuju Tuhan sebagai keseimbangan dan kelangsungan hidup manusia. Agama juga bisa dikatakan sebagai way of life karena menjadi pedoman hidup manusia. Agama juga memiliki fungsi tersendiri bagi manusia baik sebagai fungsi sosial maupun individu. Fungsi tersebut mempunyai kekuatan yang besar dalam menggerakan komunitas sosial. Sehingga dalam keadaan seperti ini, sulit sekali untuk membedakan antara sesuatu yang murni agama dan interpretasi atas agama. Sesuatu yang murni agama, memiliki nilai-nilai sakralitas yang tinggi dan bersifat absolut. Sedangkan sesuatu yang bersifat dinamis merupakan hasil pemikiran manusia terhadap wahyu-wahyu Tuhan.

         Namun, dalam realitasnya, terkadang mengalami kesulitan untuk membedakan antara keduanya karena secara sadar maupun tidak terjadi pencampuradukan makna antara agama yang murni bersumber dari Tuhan dengan pemikiran agama yang bersumber dari manusia. Perkembangan selanjutnya, hasil dari pemikiran agama tidak jarang telah berubah menjadi agama itu sendiri, sehingga ia seakan-akan disakralkan dan berubah menjadi sebuah tradisi keagamaan bagi masyarakat.  Seperti pemahaman seseorang tehadap tradisi Yasinan.

         Tidak mengherankan jika masyarakat cenderung menciptakan tradisi keagamaan sebagai ekspresi atas spitualitasnya, seperti tradisi Yasinan yang masih diyakini oleh masyarakat. Sebagai manusia yang beragama dan patuh pada ajaran agama, sebisa mungkin manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan agar dianggap sebagai manusia yang taat dan patuh pada agama. Tuhan dihadirkan dalam ritual-ritual keagamaan. Dari keadaan tersebut, manusia mendapatkan totalitas kekentraman batin yang tak terdiskripsikan atas pengalaman agama yang dijalaninya.

         Tradisi Yasinan ini merupakan fokus kajian kami dalam memahami sosio-kultural di masyarakat dengan mengambil sampel penelitian di tiga tempat yakni, Pesantren minhajut Tamyiz Yogyakarta, Jatinom Klaten dan Pendoporejo Kulon Progo. Selanjutnya kami sebagai peneliti akan mencari titik temu fungsi Tradisi Yasinan ini bagi masyarakat, karena dalam prakteknya Tradisi Yasinan dalam masyarakat akan berbeda-beda. Namun kami tidak mempermasalahkan dalam pelaksanaannya, melainkan memahami dari sudut pandang peran dan fungsi atas pemaknaan masyarakat terhadap Tradisi Yasinan yang mereka anut.

GAMBARAN UMUM TRADISI YASINAN

         Tradisi pembacaaan Yasinan merupakan tradisi lama yang masih dipegang oleh kalangan masyarakat Indonesia. Tradisi Yasinan ini begitu unik karena hanya ada di Indonesia dan Malaysia. Tradisi ini merupakan bentuk ijtihad para ulama untuk mensyiarkan Islam dengan jalan mengajak masyarakat agraris yang penuh mistis dan animisme untuk mendekatkan diri pada ajaran Islam melalui cinta membaca Al Qur’an, salah satunya Surat Yasin sehingga disebut sebagai Yasinan. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat baik kaum ibu maupun bapak dan juga di kalangan para remaja baik putri maupun putra. Pelaksanaannya pun berbeda-beda seperti ada yang melaksanakannya pada malam hari, siang hari atau sore hari atau hanya pada wktu-waktu tertentu misalnya malam Jum’at, hari ketiga, ketujuh, hari seratus, hari keseribu bagi orang yang meninggal. Semua itu memiliki ketentuan masing-masing daerah.

         Yasinan merupakan sebuah tradisi yang telah mendarah daging bagi masyarakat Jawa khususnya bagi kaalngan orang-orang NU, meskipun ada beberapa kalangan Muhammadiyah mengikuti tradisi ini. Terlepas dari pro dan kontra, karena kami tidak mempermasalahkan apakah tradisi Yasinan itu dosa atau tidak. Namun kenyataannya tradisi Yasinan tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Yasinan adalah sebuah kegiatan membaca surat Yasin secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang rais atau kaum, biasnya Yasinan juga dilengkapi dengan bacaan Al Fatihah, dan bacaan tahlil serta ditutup dengan doa dan diamini oleh jamaah.

         Yasinan dilakukan dalam waktu waktu tertentu misalnya malam Jumat yang dilaksanakan di masjid atau dirumah rumah warga secara bergiliran setiap minggunya. Selain pada malam Jum’at yasinan juga dilaksanakan untuk memperingati dan “mengirim” doa bagi keluarga yang telah meninggal pada malam ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan keseribu. Masyarakat mempercayai bahwa dengan membaca surat Yasin maka pahala atas pembacaan itu akan sampai pada si mayat. Ada pula acara Yasinan ini dilakukan untuk meminta hajat kepada Tuhan agar dipermudah dalam mencari rizki maupun meminta hajat agar orang yang sakit dan sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akan diakhirinya ke hidupan ini sudah jelas, maka surat Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah. Yasin sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surat Yasin dibaca dengan harapan jika bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

         Masyarakat melaksanakan tradisi ini karena turun temurun. Artinya tradisi ini merupakan peninggalan dari nenek moyang mereka, dimana Islam mengadopsinya sebagai bagian dari ritual keagamaan. Dari pelaksanaan tradisi ini maka ada makna yang lain selain dari arti ayat ayat yang dibaca secara bersama sama. Misalkan di daerah Pendoporejo dan Jatinom, setelah pembacaan Yasin selesai, salah seorang warga membentuk komunitas arisan, mengobrol mengenai masalah ta’mir masjid, maupun hanya sekedar makan-makan saja. Mereka tidak mengenal dengan semua tradisi ini apakah tradisi ini ada dalam ajaran Islam atau tidak, yang  terpenting  bagi mereka adalah melaksanakan tradisi ini yang diajarkan oleh orang sebelum mereka. Tidak begitu berbeda dengan di pondok pesantren Minhajut Tamyiz, hanya saja seusai Pembacaan Yasinan mereka meneruskannya dengan pembacaan maulid nabi, baru setelah itu acara makan-makan dan mengobrol.

PELAKSANAAN YASINAN DI MASYARAKAT

         Acara yasinan biasanya diadakan oleh seorang yang mempunyai hajatan dengan mendatangkan beberapa orang tetangganya untuk ikut serta membaca surat yasin pada acara tersebut. Ada juga acara yasinan diadakan karena sudah menjadi tradisi terdahulu, misalnya di pesantren “Minhajut Tamyiz” Yogyakarta, Jatinom Klaten dan Pendoporejo Kulon Progo. Di pesantren Minhajut Tamyiz acara Yasinan biasanya hanya diadakan rutin tiap malam Jum’at, meskipun terkadang ada beberapa warga masyarakat yang meminta agar acara Yasinan dilakukan di rumahnya saja. Santri-santri diundang dalam acara Yasinan yang diadakan oleh masyarakat baik sebagai rasa syukur karena mendapatkan rizki, meminta hajat, maupun syukuran atas masa kehamilan tujuh bulan dan lain-lainya. Tidak begitu berbeda dengan dua tempat lainnya seperti Jatinom dan Pendoporejo.

         Pelaksanaannya di awali dengan pembukaan oleh pemimpin, rais atau imam dengan mengirim surat al-Fatihah kepada Nabi, Sahabat, para Ulama dan kepada orang-orang atau keluarga yang telah meninggal. Kemudian imam melanjutkannya dengan mengawali bacaan surah Yasin dengan ta’awudz dan membaca basmalah dan membaca surat Yasin tersebut bersama-sama sampai selesai, setelah selsai membaca surah yasin dilanjutkan dengan berzikir dan mendoakan sesuai permintaan sang tuan rumah yang memiliki hajat tersebut, ada yang sukuran, karena kelahiran sang bayi, ada yang mengirim doa untuk kepergian kerabatnnya.

         Setelah rais selesai membacakan doa, acara tersebut dilanjutkan dengan acara makan-makan dengan hidangan ala kadarnya. Dalam penyajian dan suguhan makanan disesuaikan dengan keuangan sang tuan ruamah, atau dengan yang punya hajat, dan selera lidah warga setempat dan lain sebagainya. Maka darisinilah kami dapat mengetahui bagaimana prosesi pelaksanaan tradisi Yasinan tersebut mulai rais memimpin acara Yasinan sampai selesai kemudian dilanjutkan penyantapan hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah setelah itu diteruskan dengan acara “mengobrol” oleh masyarakat. Obrolannya pun bermacam-macam ada yang berbicara masalah ta’mir masjid, ada yang arisan, ada yang membicarakan pasangan terutama dalam kalangan muda-mudi, dan banyak obrolan lainnya yang tidak bisa kami sampaikan dalam makalh ini.

MEMAKNAI TRADISI YASINAN

         Sudah menjadi hal yang umum jika tradisi Yasinan digunakan sebagai Majelis taklim dan dzikir mingguan masyarakat dan sebagai media dakwah agar masyarakat menjadi lebih dekat dengan Tuhannya. Namun di sisi lain tradisi Yasinan bisa dimaknai sebagai forum silaturahmi warga, yang tadinya tidak kenal menjadi kenal, yang tadinya tidak akrab menjadi lebih akrab. Kegotong royongan, solidaritas sosial, tolong menolong, rasa simpati dan empati juga merupakan sisi lain dari adanya tradisi Yasinan. Kegotong royongan ketika mengadakan acara. Tolong menolong agar acaranya berjalan sesuai yang diharapkan. Rasa empati dan simpati ketika ada seseorang kerabatnya yang kesusahan atau kerababnya yang meninggal. Semua itu merupakan makna lain yang terkandung dalam tradisi Yasinan.

         Tradisi Yasinan yang sudah menjadi tradisi masyarakat khususnya pesantren Minhajut Tamyiz, masyarakat Pendoporejo dan Jatinom memiliki dua makna yaitu sosiologis dan ekonomis. Makna sosiologis yaitu memandang tradisi Yasinan sebagai sebuah acara keagamaaan dimana warga berkumpul dan membaur dalam bahasa Jawanya “ srawung” yaitu bersosialisasi dengan warga lain. Jika salah seorang warga tidak pernah menghadiri yasinan maka dapat dikatan “ra srawung”. Artinya warga tersebut mendapatkan sanksi sosial dimana masyarakat mengucilkan atau menjauhinya, karena masyarakat masyarakat memiliki norma-norma bersama yang telah disepakati secara tidak tertulis. Sehingga pada keadaan seperti itu

         Tradisi Yasinan juga dapat dipandang sebagai perekat hubungan sosial warga., ketika mengikuti acara Yasinan maka warga yang kemarin tidak kenal satu sama lain akan menjadi kenal. Dengan acara seperti ini dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama warga. Disamping itu juga dengan keikutsertaan warga mengikuti acara Yasinan dapat menumbuhkan rasa empati dan simpati masyarakat untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang mengadakan acara Yasinan. Dalam persiapannya menyajikan makanan, para kaum perempuan dan laki-laki saling gotong royong untuk membuatkan masakan yang telah dibiyayai oleh tuan rumah yang memiliki hajat. Oleh karena itu acara Yasinan sangat berpengaruh terhadap solidaritas warga masyarakat, karena saling membantu satu sama lain.

         Makna lain ialah nilai ekonomis, dimana dalam yasinan terkadang ada suguhan makanan baik berupa snack, makan, dan berkat yang dibawa pulang. Kadang juga ada yang memberikan sajadah dan diberi tulisan bahwa yasinan ini sebagai peringatan kematian anggota keluarga. Tentunya bagi warga ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan bagi keluarganya. Yang lebih unik lagi bagi yang mengadakan acara Yasinan, terkadang bila tidak ada uang untuk melaksanakan hal tersebut mereka rela menjual harta yang ada misal sawah, perhiasan atau ternak. Untuk memberi hidangan pun ada yang sampai menyembelih sapi walau saat hari raya qurban malah tidak pernah berqurban. Gotong royong dalam penyajian makanan pun menjani nilai ekonomis bagi masyarakat karena dapat mengurangi pengeluaran tenaga dan waktu.

         Disamping itu, konsep theology dan filsafat yang terdapat pada Yasinan turut serta dalam membentuk mental solidaritas. Misalnya engaruh dari konsep theology, masyarakat percaya bahwa dosa mereka terhadap sesama manusia itu dapat tertutupu dengan amalan-amalan yang baik yang dilakukan selama hidup dibumi dengan bertindak sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan hadits, sehingga pada konsep filsafat, sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendirian yang membutuhkan orang lain maka haruslah saling tolong menolong sesama manusia apalagi sesama umat muslim, supaya dapat mempersatukan umat muslim seutuhnya dan menghindari pertikaian.

KESIMPULAN

         Sejarah yasinan dalam masyarakat khususnya pesantren Minhajut Tamyiz Yogyakarta, Pendoporejo Kulon Progo dan Jatinom Klaten merupakan tradisi yang secara turun temurun diwariskan dari nenek moyang yang kemudian diadopsi oleh Islam sebagai bagian dari ajaran agama.

         Pelaksanaannya di awali dengan pembukaan oleh pemimpin, rais atau imam dengan mengirim surat al-Fatihah kepada Nabi, Sahabat, para Ulama dan kepada orang-orang atau keluarga yang telah meninggal. Kemudian imam melanjutkannya dengan mengawali bacaan surah Yasin dengan ta’awudz dan membaca basmalah dan membaca surat Yasin tersebut dibaca bersama-sama sampai selesai, setelah selsai membaca surah yasin dilanjutkan dengan berzikir (tahlilan) dan diakhiri dengan doa sesuai permintaan sang tuan rumah yang memiliki hajat, ada yang sukuran atas kehamilannya yang tujuh bulan, karena kelahiran sang bayi, ada yang mempunyai hajat agar mendapatkan rizki yang banyak, dan ada pula yang mengirim doa untuk kepergian kerabatnnya. Setelah doa acara tersebut diteruskan dengan acara “penjamuan makanan” dan acara “mengobrol”. Entah apa yang diobrolkan mulai obrolan tentang ta’mir masjid sampai kepada arisan.

         Makna dibalik tradisi Yasianan adalah sebagai sosialisasi. Dimasa kini, pelaksanaan Yasinan bertujuan :

  1. Sebagai Majelis taklim dan dzikir mingguan
  2. Pembacaan doa terhadap orang yang sakit atau yang telah meninggal
  3. Sarana gotong royong, tolong menolong, menaruh rasa simpati dan empati
  4. Sebagai Forum silahturahmi warga
  5. Sebagai Media syukuran (syukur nikmah) sebuah keluarga yang telah mendapat nikmat dari Allah SWT.
  6. Terkadang di daerah tertentu juga dibarengkan dengan Arisan seperti daerah Jatinom
  7. Sebagai media sedekah (berupa hidangan ala kadarnya)

HASIL WAWANCARA

         Informan dari rais dalam pembacaan surah Yasin (Ust. Iman Effendi) mengatakan bahwa membaca Surah Yasin memiliki faedah tersendiri diantaranya:

  1. Surat Yasin lebih akrab di tengah masyarakat karena biasa dibaca pada saat ada orang yang hendak meninggal atau telah meninggal maupun mendoakan seseorang yang sedang sakit.
  2. Surat Yasin memiliki fadhilah (keutamaan) bagi yang membacanya.
  3. Yasin dapat dibaca saat kita mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dari penyakit, menghadapi ujian, mencari jodoh, dan lain-lain.

         Informan dari Bpk. Rohman, salah satu jemaat yasinan,

         Mengapa perlu diadakan yasinan? Karena maksud yasinan adalah sebagai media dakwah di masa para Walisongo dahulu, dan sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat kampung. Sebenarnya banyak orang- orang kampung yang belum mengerti makna yasinan tersebut, mereka hanya ikut- ikutan melakukan yasinan saja.

         Bagaimana tatacara yasinan tersebut? Dalam acara yasinan biasanya diawali dengan membaca alfatihah, surat An-nas, Al-ikhlas, Al-falaq, serta Sholawat nabi, kemudian membaca surat Yasin bersama- sama. Setelah itu biasanya diadakan ngobrol-ngobrol seputar  perkembangan ta’mir masjid sambil makan- makan kecil dan arisan.

         Informan dari bapak Muh Iksan (aktivis muhammadiyah daerah setempat)

         Kenapa samapai saat ini tradisi yasinan masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Muslim? Karena saat ini yasinan adalah wadah bagi umat muslim untuk berkumpul dan berdoa, serta dalam yasinan ada hal hal yang membuat masyarakat mau menghadrinya, diantaranya sebagi media sosialisasi warga satu dengan warga lainnya.

         Mengapa sebagian warga muhammadiyah tidak menjalankan yasinan? Kami juga membaca Qur an, termasuk yasin dan surat surat lain dalm Al qur an namun kami baca sendiri seniri. Beda tidak jadi masalah yang masalah yang tidak mau beribadah.


Beasiswa, Syukuran dan Agama

        11 januari yang lalu (kayak lagunya gigi nih) gue dapet surat. Gue baca kop amplop depannya tertulis “Departemen Agama Kota Yogyakarta”. Wah… ada apa gerangan yah??? Maklum gue sekretaris di sebuah Yayasan Pendidikan Islam Pesantren, makanya sering dapet surat dari Depag. Karena penasaran dengan isinya, akhirnya gue baca isi suratnya. Gue baca perihal surat tertulis “Penerimaan Permohonan Bantuan”. Deg! Baru gue baca perihalnya saja bikin gue makin penasaran dengan isinya. Setelah gue baca seluruh isi suratnya, gue jadi ketawa sendiri. Ternyata nama gue “Taufiq Hidayatillah” tercantum di isi surat tersebut. Yes!!! ada respon positif dari Depag…. Akhirnya permohonan beasiswa gue diterima. Tahun kemarin temen gue dapet 4 juta, dan gue pikir mungkin saja tahun ini Depag ngasih tambahan jadi 5 juta. Eh… taunya Cuma dapet 3 juta… tapi enggak apalah… itung2 bantuin ngabisin dana Depag. Haha…

         Namun bukan disitu permasalahannya. Terkadang kita tidak pernah mengetahui konsekwensi dari beasiswa yang kita dapat. Yup!!! Konsekwensinya adalah membagi dana beasiswa dengan teman-teman kita. Biasanya teman-teman kita akan meminta syukuran atau sejenisnya. Masih mending jika teman kita cuma satu, lah kalau punya banyak teman, berapa banyak dana yang harus kita keluarkan??? Belum lagi dari pihak instansi yang kita kelola, biasanya juga meminta imbalan jasa berupa persenan dana beasiswa.

       Gue selalu dipojokin buat ngeluarin syukuran atas beasiswa yang gue dapet. Tidak Cuma satu teman saja yang minta, dari teman sekampus, teman sekuliah, teman sekelas, teman organisasi, apalagi ditambah lagi teman facebook….. sampai teman yang enggak gue kenal di facebook minta kucuran dana. Wah…..!!! kalau begini sama saja gue enggak dapet beasiswa dong… belum lagi dari pihak pesantren minta 10%. Coba saja bayangkan, dari dana 3 juta dipotong 10% untuk instansi jadi 2,7 juta. Jika acara syukuran untuk teman sekelas (ambil saja 40 orang) /@Rp.10.000=Rp.400.000. Sisa dana jadi 2,3 juta. Di tambah acara syukuran untuk teman organisasi (ambil lagi 40 orang), sisa dana jadi 1,9 juta. Belum acara syukuran teman deket, ini nih yang makin menjadi-jadi…

       Belum digunakan untuk keperluan gue udah habis 1,1 juta hanya untuk keperluan teman-teman gue (makan-makan). Gue sampai mikir… ini dana sebenarnya buat siapa sih??? Buat gue, apa buat teman-teman gue??? Kalau dananya buat gue, terus ngapain teman-teman gue ikut ngabisin dana?? Kalau dananya buat teman-teman gue, terus ngapain dananya dikirim buat gue?? Gue enggak masalah dengan dalil agama yang memerintahkan untuk melakukan “syukuran”. Tapi masalahnya kenapa dalil agama itu dijadikan referensi bagi orang-orang??. Apalagi orang-orang itu Cuma manfaatin gue saja. Waktu gue dapet rizki, gue dideketin, tapi waktu gue gak dapet rizki alias gak punya uang, gue ditinggalin. Apa ini karena dalil agama yang berbunyi “ambillah yang baik (deketin orang-orang yang punya rizki, agar dikasih rizki) dan tinggalkanlah yang buruk (saat orang-orang kehabisan rizkinya)??.

         Kenapa kita selalu berdalih agama untuk mendapatkan “kepuasan”? gue paling sebel juga nih dengan orang-orang yang bilang gini “Loh dana itu kan dapat dikasih oleh Allah, seharusnya lo bagi-bagi di jalan Allah dengan cara bersedekah, sodaqoh, bla bla bla (dan ujung-ujungnya ngomong suruh ntaktirin dia). Toh sesuatu yang didapat akan kembali pada Allah. Nanti juga lo dikasih rizki lagi sama Allah”. Gue enggak habis pikir dengan orang yang ngomong kayak gitu. Karena sebelnya gue sampai nulis status di facebook:

“kebaikan akan selamanya menjadi kbaikan.. berbeda dengan kebenaran yang hanya brsifat subjektif. Terkadang orang mnganggap bahwa kebaikan itu sesuatu yg “benar”, hingga muncul keegoisan untuk memaksakan kebenaran itu muncul. Menganggap kebaikan yg diberikan oleh seseorang merupakan kebenaran bagi dirinya untuk mendapatkan kebaikan tsb.”

Resensi Buku “Passing Over”, Melintasi Batas Agama

      Akhir-akhir ini wacana mengenai hubungan antar agama begitu hangat dibicarakan. Apalagi ketika masa pemerintahan Abdurahman Wahid (Gus Dur) telah memperjelas isu ini dan bukan hanya sekedar isu belaka melainkan beliau menjadi lakon yang nyata atas wacana itu. Meskipun dalam faktanya beliau seringkali digugat oleh sebagian orang dan sekaligus sebagai tokoh yang kontroversi dikalangan umat Islam. Tidak hanya Gus Dur, beberapa tokoh pluralisme lain misalnya Cak Nur, M. Quraish Shihab, Komarudin Hidayat, Barbara Brown, Liang Wenfung dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang memperbincangkan diskursus ini. Bagaimana mereka mengajukan gagasan-gagasan dengan mencari titik temu diantara agama-agama melalui pendekatan dialog antaragama.

         Sangat amat naif jika ada seseorang yang hanya memandang satu agama dari beberapa agama sebagai klaim bahwa agamanya-lah yang paling benar bahkan pada tingkatan yang paling ekstrim menganggap bahwa selain agamanya-lah akan masuk Neraka. Kecenderungan ini tentunya menggunakan tolak ukur yang dipakai adalah tidak seimbang dengan takaran semestinya. Hal ini terjadi karena doktrin agama yang dipahami seseorang terkadang tidak melihat  (bahkan menutup diri) dengan kondisi masyarakat yang kompleks apalagi ketika dihubungkan dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara yang multi-etnis, kultur dan agama. Tetapi jika kita melihat Negara lain, saya kira Indonesia belum-lah dikatakan sebagai Negara yang Multikultur, karena Masyarakat Indonesia masih belum bisa mengaplikasikan konsep multikultur, bisa kita lihat ketika ada suatu konflik masyarakat yang disebabkan hanya karena masalah suku bahkan membawa nama agama sebagai dalih untuk berbuat sesukanya.

         Sebuah buku yang berjudul Passing Over; Melintasi Batas Agama telah memberikan gambaran yang utuh mengenai hubungan antar agama-agama. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa artikel yang ditulis oleh tokoh-tokoh pluralisme seperti yang telah di sebutkan diatas. Disana telah dijelaskan beberapa tema dimulai dari dialog Agama, masalah Agama, kebebasan Agama, Agama-Agama dunia dan terakhir hubungan antar-Agama.

         Dalam tema yang pertama, buku ini menjelaskan tentang isu-isu seputar dialog antar-Agama. Pada bagian ini Cak Nur (Nurkholish Madjid) menyatakan bahwa inti dari semua Agama adalah sama yakni ketundukan kepada Tuhan yang maha Esa. Beliau memandang bahwa suatu keharusan (terutama bagi umat Islam) untuk mengadakan dialog antar-Agama. Pandangan seperti itu diperkuat dalam tulisan Gus Dur (Abdurahman Wahid) bahwa umat Islam masih belum bisa melakukan pendekatan ini, karena dari segi internal dialog antar-Agama hanyalah menjadi isu guyon belaka. Terbukti ketika pertentangan dikalangan umat Islam sendiri mengenai pemahaman sebuah teks Agama yang selalu diperdebatkan dan tak pernah ada habisnya.

         Memasuki tema yang kedua membicarakan tentang kebebasan beragama yang ditinjau dari beberapa sudut pandang seperti Djohan Effendi memulai tulisannya dengan menghubungkannya jaminan konstitusional bagi kabebasan beragama. Menurutnya masalah kebebasan Agama tidak hanya berkaitan dengan “penghormatan” belaka, tetapi juga berkaitan dengan nilai-nilai keberagaman itu sendiri. Lebih menarik lagi ketika Suwoto Mulyosudarmo melihat kebebasan beragama dengan menggunakan konsep Hak Asasi Manusia dan mempermasalahkan tentang Organisasi Negara yang dianggap sebagai masalah dasar dalam kebebasan Agama. Kemudian diteruskan oleh Cak Nur dan Quraish Shihab yang mendukung penuh gagasan pluralisme dan kekebasan beragama dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta mengkontekskannya ke dalam kondisi masyarakat Indonesia.

         Dalam tema yang ketiga disinggung beberapa gagasan mengenai kesatuan Agama, perbandingan Agama, dan pengalaman Agama yang merupakan pengembangan dan perluasan dari tema-tema sebelumnya. Editor (Komarudin Hidayat) dan Syamsudin memulainya dengan pembahasan mengenai interelasi dan interaksi Agama-Agama di Dunia. Mereka berdua bersepakat bahwa dengan adanya interaksi antar-Agama akan membawa Dunia menuju Konvergensi.

         Masih dalam tema ketiga Kautsar Azhari menjelaskan tentang perbbandingan Agama. Ia memandang bahwa perlu mencari keparalelan dari gejala-gejala dan bentuk-bentuk keagamaan sampai pada penutupan, Kautsar membawa pembaca mengenalkan lebih dekat tentang Agama-Agama melalui sebuah cerita yang pernah ia alami. Kemudian diperkuat dengan cerita Darius Dubut yang melakukan “Ziarah Religius” (Passing Over) dengan berharap akan memperkaya pengalaman keagamaan.

         Pada tema yang keempat (bagian terakhir) merupakan penjelasan dan pelengkap dari tema-tema sebelumnya. Dalam hal ini akan dibahas mengenai hubungan antar-Agama dengan memberikan sebuah kasus mengenai hubungan Islam dan Kristen serta Islam dan Yahudi. Alwi Sihab secara mendetail menerangkan hubungan Islam dan Kristen, bagaimana kedua Agama tersebut diungkap melalui masalah-masalah yang terjadi sekaligus memberikan solusi atas masalah tersebut berupa perlunya “Etika Dialog” atau “Aturan Main”. Sedangkan dalam masalah Islam dan Yahudi dijelaskan oleh Hamid B dengan pendekan kesejarahan. Ia menjelaskan bahwa hubungan kkedua Agama tersebut menjadi rusak disebabkan karena masalah politik.

         Buku ini penting untuk dibaca karena kontennya sangat berisi dan berbobot malah harus bagi Islam fundamentalis. Tidak penting gagasan seperti apa yang akan dituangkan oleh penulis, setidaknya ada upaya memperkaya “pengalaman keagamaan” (istilah yang digunakan Darius Dubut). Tidak penting untuk mendalami tulisan penulis tetapi sebagai bahan introspeksi diri mungkin akan sangat berpengaruh dan berguna.

Studi Lapangan di LSM “Rifka Annisa”

         Di Indonesia banyak sekali organisasi-organisasi wanita, baik itu yang berbasiskan agama, sosial, ekonomi dan politik. Kesemuanya merupakan gerakan civil society yang memfokuskan kegiatan mereka pada usaha pemberdayaan perempuan termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat Rifka Annisa. Nama Rifka Annisa sendiri berarti “Teman Perempuan”. Sebuah organisasi yang lahir dari non pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 Agustus 1993.  Rifka Annisa merupakan Suatu Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerja untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan, melawan ketertindasan permpuan atas budaya partiarki terutama dalam masalah kekerasan dalam rumah tangga atau sering disebut juga KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan realitas gunung es, hanya bagian atasnya yang bisa dilihat tapi jika kita telusuri lebih jauh lagi mungkin tidak akan terbayangkan betapa besarnya hal tersebut.

         Organisasi ini berdiri dari beberapa aktivis perempuan di Yogyakarta, di antaranya Suwarni Angesti Rahayu, Sri Kusyuniati, Latifah Iskandar, Desti Murdijana dan Sitoresmi Prabuningrat. Para perempuan aktivis ini bermaksud untuk menyediakan dukungan untuk perempuan korban kekerasan. Gagasan pendirian organisasi ini muncul dari kepedulian yang dalam terhadap kecenderungan budaya patriarkhi yang pada satu sisi memperkuat posisi laki-laki dan memperlemah posisi perempuan pada sisi yang lain. Sebagai akibatnya perempuan menjadi rentan terhadap kekerasan. Selain menyediakan layanan untuk perempuan korban kekerasan (sebagai pusat krisis untuk perempuan), baru-baru ini Rifka Annisa menetapkan untuk menjadi pusat pengembangan sumberdaya manusia untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

         Sebagai pusat krisis untuk perempuan dan pusat pengembangan sumber daya manusia, Rifka Annisa menyediakan beberapa layanan diantaranya konseling atau konsultasi psikologis bagi korban kekerasan (perempuan) maupun pelaku kekerasan (laki-laki). Layanan ini dapat dilakukan melalui beberapa cara di antara tatap muka, melalui media komunikasi dan kunjungan ke rumah korban kekerasan. Tidak hanya itu Rifka Annisa juga menyediakan layanan pendampingan hukum yang meliputi konsultasi hukum dan pendampingan hukum dalam proses-proses peradilan apabila klien memutuskan untuk membawa masalahnya ke pengadilan, penyediaan rumah aman untuk perempuan korban kekerasan apabila terancam keselamatannya atau tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan komunitas.

         Sejak tahun 1997 Rifka Annisa menganggap bahwa laki-laki adalah mitra potensial dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sehingga Rifka Annisa melibatkan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Program atau layanan ini dikenal dengan ”program pelibatan laki-laki”. Dalam rangka meningkatkan kesadaran laki-laki Rifka Annisa telah menerbitkan buku ”menjadi suami yang sensitif gender”. Dan sebagai tindak lanjut dari program pelibatan laki-laki ini, tahun 2006 Rifka Annisa telah memulai menyediakan layanan untuk laki-laki pelaku kekerasan. Penyediaan layanan ini berdasarkan data bahwa 90 persen perempuan yang menjadi korban kekerasan suami memutuskan kembali ke suami dan tidak ada penanganan untuk suami pelaku kekerasan.

         Tidak hanya itu, Rifka Annisa juga menyediakan Layanan Konsultansi untuk beberapa program seperti assessment, penelitian, evaluasi atau penguatan kapasitas. Rifka Annisa memiliki kelompok ahli di berbagai bidang seperti gender, isu perempuan dan anak, advokasi dan pengorganisasian masyarakat. Melalui program layanan ini memungkinkan Rifka Annisa untuk berbagi keahlian dengan organisasi-organisasi lain dan kelompok-kelompok masyarakat.

         Rifka Annisa sebuah lembaga swadaya yang berkonsentrasi pada advokasi perempuan di Yogyakarta, telah lama menggunakan media film. Dalam tajuk Untuk Perempuan di tahun 2005, Rifka meluncurkan film berdasarkan kisah nyata tentang ketertindasan perempuan. Langkah Rifka diharapkan dapat mendobrak kemapanan berpikir di masyarakat, yang membiarkan ketertindasan perempuan sebagai hal yang bukan ketertindasan. Lebih dari itu, pemilihan media film dimaksudkan untuk memudahkan menyebarkan pemahaman bahwa kekerasan terhadap perempuan harus segera dihentikan.

         Ada perempuan yang melancarkan protes dengan cara berdiam dan menolak untuk komunikasi. Ada pula yang mengungkapkan kemarahannya dan menyuarakan keinginan-keinginannya. Namun, bentuk-bentuk perlawanan individu ini mungkin lebih berfungsi mengurangi ketegangan, tidak berpengaruh terhadap status quo dan tidak mengakibatkan perubahan yang dikehendaki. Alternatif lainnya ialah bentuk-bentuk perlawanan secara kolektif yang telah terbukti efektif dalam mendorong perubahan. Pencapaian hal-hal, misalnya hak pilih, hak kepemilikan, upah yang lebih tinggi, dan kampanye. Dengan melakukan aksi protes dan inisiatif sosial, budaya atau ekonomis sekaligus, maka suatu proses penyadaran terlibat. Bilamana kegiatan ini cukup kuat, seringkali perempuan membentuk suatu organisasi untuk mendapat legitimasi hukum dan pengaruh publik.

         Dengan demikian, partisipasi mereka dalam sistim politik tercapai. Ketika berada dalam formasi gerakan, akan ada banyak inisiatif di arena sosial, ekonomi, dan politik yang akan membantu perempuan membentuk kesadaran, menciptakan ruang gerak ekonomi dan sosial, serta mendorong reformasi politik. Artinya, jika tergabung dalam sebuah gerakan, perempuan memiliki wadah untuk menyampaikan ide dan gagasannya secara terbuka, dan ada mekanisme untuk melakukan perlawanan secara masif. perkumpulan perempuan-perempuan swakarya merupakan contoh tentang bagaimana suatu kegiatan ekonomi para perempuan dapat tumbuh dengan menyertakan kegiatan sosial dan budaya. Sesudah tumbuh menjadi organisasi besar yang beranggotakan ribuan perempuan swakarya, mereka mempunyai kekuatan politik untuk memperjuangkan kebijakan umum yang menunjang perempuan swakarya. Dengan cara mempertahankan diri sebagai badan yang otonom.

         Harus diakui gerakan perempuan dan kesadaran untuk melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan di bidang publik dipahami oleh kalangan terbatas dalam masyarakat. Mereka adalah kalangan kelas menengah, kelompok terdidik atau profesional, dan mayoritas mereka yang berusia muda yang umumnya berada di perkotaan. Hal ini berarti ada mayoritas warga masyarakat pedesaan, mereka yang berusia lebih tua dan berpendidikan rendah, gerakan perempuan tidak menemukan bentuk yang nyata. Memang sangat kasat mata, persoalan partisipasi perempuan pedesaan dalam mengambil keputusan di bidang publik masih menjadi problem yang belum terselesaikan. Harus diakui, budaya patriarkhi yang mengakar dan sistem politik yang didominasi oleh laki-laki memiliki dampak negatif besar bagi upaya perempuan pedesaan untuk mendapatkan hak dalam menyampaikan aspirasinya di ruang publik. Selama ini kekerasan terhadap perempuan juga anak, khususnya dalam keluarga, selalu mengidentikkan laki-laki sebagai akar masalahnya. Padahal, secara subtantif, kaum laki-laki adalah sosok yang mampu melindungi dan mengayomi.

Dalam aksinya memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan ini, puluhan lelaki beserta keluarganya berkumpul di taman parkir Abu Bakar Ali, kemudian longmarch menyusuri kawasan Malioboro menuju perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Massa juga membawa kereta bayi, payung serta mengenakan celemek sebagai simbol, jika lelaki juga harus mampu dan peduli terhadap keluarga, khususnya terhadap perempuan dan anak. Aksi ini diakhiri dengan penandatanganan dalam selembar spanduk bagi para pejalan kaki untuk mendukung aksi laki-laki peduli keluarga ini.

         Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, dengan menjadikan kaum perempuan sebagai kelompok sasaran dominan, setiap tahun dilancarkan oleh lembaga dan organisasi pembela Hak Asasi Manusia perempuan di Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang jatuh setiap tanggal 25 Nopember.  Salah satu organisasi yang terdepan dalam menyikapi dan menindaki kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di negeri ini adalah Rifka Annisa, yang sejak tahun 1993 berperan nyata dalam mendampingi para perempuan korban kekerasan di Yogyakarta dan sekitarnya.

         Lebih dikenal masyarakat sebagai sebuah women’s crisis center, Rifka Annisa melalui rangkaian kegiatannya tekun membuka wawasan perempuan akan rawannya mereka pada kekerasan berbasis gender di dalam kehidupan berelasi sehari-hari. Berkat perannya yang terfokus ini, kaum perempuan dampingan mereka kini menjadi lebih sadar akan hak-hak asasi mereka sebagai manusia setara dan lebih peka pada kondisi-kondisi yang cenderung melangkahi hak-hak mereka tersebut. Namun, setelah bertahun-tahun berkampanye, Rifka Annisa tergugah oleh suatu kenyataan.

         Kampanye untuk membangun kesadaran anti-kekerasan selama ini memang memicu keberdayaan di kalangan perempuan sebagai khalayak sasaran utama. Akan tetapi, kampanye  ini tidak membuka ruang bagi kaum lelaki untuk ikut berproses, mereka luput dari dampak kampanye. Pakem yang cenderung menyamakan ‘kekuasaan’ dengan ‘kekerasan’  ternyata tetap hidup kental di dalam relasi-relasi antar lelaki dan tetap menjadi sikap sehari-hari untuk mengabsahkan kekuasaan lelaki dalam berelasi dengan perempuan. Selama pola ini masih hidup, betapapun pemberdayaan diri yang dicapai oleh pihak perempuan, kekerasan akan tetap diabsahkan dalam relasi-relasi lelaki dengan perempuan. Memaklumi ini, Rifka Annisa mengambil kebijakan membuka ruang bagi kaum lelaki untuk ikut berproses dalam memaknai hakekat kekerasan dan menumbuhkan sikap anti kekerasan terhadap perempuan sebagai sesama insan manusia.

         Untuk mewujudkan kebijakan itu, pada kampanye anti kekerasan terdahap perempuan tahun 2008, Rifka Annisa meluncurkan anak-kampanye dengan judul berbahasa gaul indo-lish (Indonesia-English) “Real Boys Care Others”, yang substansinya mengandung pesan bahwa “lelaki tulen itu sayang sesama manusia”. Pesan ini merupakan tandingan terhadap gambaran lelaki sejati adalah manusia yang identik dengan kekerasan, yang semena-mena terhadap hak-hak asasi  manusia lain, atau diistilahkan sebagai maskulinitas negatif.

         Secara strategis Rifka Annisa membatasi kesertaan pada kaum lelaki remaja saja, yakni lelaki yang berada pada usia-usia yang sedang ‘belajar tentang lawan jenis’ dan sedang mencari-cari pola relasi dalam pergaulan. Masa yang boleh dikatakan rawan inilah yang dinilai oleh Rifka Annisa sebagai kurun usia yang relatif terbuka pada tawaran nilai-nilai baru. Melalui anak-kampanye “Real Boys Care Others”, Rifka Annisa menawarkan nilai-nilai yang beritikad menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan antar insan manusia, yang pada gilirannya akan melahirkan sikap dan perilaku yang saling menghormati, bebas dari kekerasan.

Rekonstruksi Orientalisme dan Oksidentalisme

PENDAHULUAN

         Melakukan kajian tentang perkembangan pemikiran tentang orientalisme dan oksidentalisme bukanlah hal yang mudah. Meskipun kajian Orientalisme telah berkembang cukup lama, namun untuk melacak dinamika intelektualismenya harus melibatkan banyak elemen dan beberapa variabel. Karena meski akar-akar kajian orientalisme relatif sama, namun ekspresi yang ditampilkan oleh pakar-pakar orientalisme ternyata sangat beragam. Telah terjadi proses pemahaman yang kurang simpatik mengenai Barat dari sebagian umat Muslim sendiri. Di  samping faktor trauma akibat aksi kolonialisme klasik, lahirnya modernitas Barat dengan segala konsekuensinya masih dihadapi secara konservatif oleh umat Muslim yang berpandangan fundamentalis.

         Tindakan-tindakan radikal serta cara-cara kekerasan yang ditampakkan umat Muslim dalam menghadapi hegemoni Barat, seperti tampak pada demonstrasi radikal di beberapa negeri Muslim dalam menanggapi kartun Nabi, justru menjadi legitimasi bagi gagapnya sebagian umat Muslim yang kehilangan kearifan peradaban. Ketegasan yang arif dan tanpa kekerasan amat sulit ditemui. Sehingga semakin menambah keyakinan Barat atas persepsi Islam yang radikal.

         Ada beberapa statemen yang menilai bahwa orientalisme selalu berkaitan dengan kolonialisme. Tidak sedikit sarjana-sarjana yang mengklaim bahwa kemunculan orientantalis membawa sejumlah malapetaka bagi kaum timur. Akibatnya nosi-nosi ini dijadikan sebagai apologi untuk melawan orientalisme. Kajian orientalisme seperti diarahkan dan terkesan bahwa barat hanyalah berisi orang-orang yang bertujuan mendominasi Timur. Tetapi penulis mencoba mendalami kajian ini dengan integrasi dan interkoneksi dialog wacana orientalisme dan oksidentalisme menjadi sebuah pemahaman yang komperhensif agar supaya tidak ada yang perlu di perdebatkan lagi nosi-nosi yang dianggap tidak obyektif.

PEMBAHASAN

         Berbagai macam tanggapan kaum Muslimin terhadap orientalisme. Tidak sedikit dari mereka ada yang menganggap seluruh orientalis sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrim dan menolak seluruh karya-karya orientalis, tidak penting bagi mereka apakah karya itu ilmiah atau tidak. Bahkan  di antara  mereka ada yang secara emosional menyatakan bahwa orang Islam yang mempelajari tulisan karya orientalis termasuk antek-antek zionis.[1] Mereka mempunyai argumen bahwa orientalisme bersumber pada ide-ide Kristenisasi yang menurut Islam sangat merusak dan bertujuan menyerang benteng pertahanan Islam dari dalam. Karena pada faktanya tidak sedikit karya-karya orientalis yang bertolak belakang dengan Islam. H.A.R. Gibb, misalnya, dalam karyanya Mohammedanism berpendapat bahwa al-Quran hanyalah karangan Nabi Muhammad; Gibb seakan menurunkan derajat kesucian agama wahyu ini, padahal tak ada seorang Muslim pun berpendapat bahwa Islam adalah ciptaan Muhammad  SAW.[2]

         Nosi negatif yang dikemukakan oleh Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter Orientalisme sepertinya memberikan pemaknaan bagi yang negatif tentang orientalis yaitu: pertama, orientalisme adalah suatu kajian yang mempunyai relasi yang sarat dengan kolonialisme Barat; kedua, orientalisme merupakan gerakan dari Kristenisasi; ketiga, orientalisme merupakan kajian gabungan yang kuat antara kolonialisme dengan gerakan Kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektivitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara mutlak khususnya dalam mengutarakan kajian tentang Islam; keempat, orientalisme merupakan bentuk kajian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk melawan Islam.[3]

         Ada yang bersikap toleran dan mereka terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok bersikap sangat berlebihan, artinya semua karya tulis kaum orientalis dinilai sangat ilmiah sehingga bagi mereka seluruh karya orientalis sangat obyektif dan dapat dipercaya. Kelompok lain bersikap hati-hati dan kritis; mereka selalu berusaha berpijak pada landasan keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak karya tulis kaum orientalis yang berisi informasi dan analisis obyektif tentang Islam dan ummatnya, karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan Islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja. Maryam Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali buruk. Sejumlah pemikir besar di Barat, telah menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka secara jujur tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak di antara pengetahuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang.[4]

         Pada umumnya para orientalis itu benar-benar menekuni pekerjaan penerjemahan ini. Mereka yang cenderung membatasi  cakupan   pengkajiannya hanya pada deskripsi, kadang-kadang berhasil menulis buku-buku yang sangat  bermanfaat, informatif dan membuka cakrawala pemikiran baru. Persoalan timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh dari batas-batas yang benar dan berusaha menafsirkan Islam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Dunia Islam berdasarkan pandangan-pandangan pribadi yang tidak cocok.

         Edward W Said dalam karyanya Orientalisme. Karya Guru besar Universitas Columbia, New York, ini telah menimbulkan kehebohan dan kontroversi di lingkungan dunia akademis Barat yang biasa disebut kaum orientalis. Menurut Said, orientalisme bukan sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akar politis, ekonomis, dan bahkan relijius. Secara politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia oriental bertujuan untuk kepentingan politik kolonialisme Eropa untuk menguasai wilayah-wilayah Muslim.[5] Dan kolonialisme Eropa tak bisa lain berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan; tegasnya penyebaran Kristen.

         Ketiga kepentingan yang saling terkait  satu  sama  lain ini  tersimpul  dalam slogan yang sangat terkenal tentang  ekspansi Eropa ke kawasan dunia Islam, yang mencakup 3G yakni Glory, Gold and Gospel:  kejayaan, kekayaan ekonomi dan penginjilan. Semua motif dan kepentingan orientalisme ini secara implisit juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi pembudayaan  terhadap dunia Timur yang terbelakang, jika tidak primitif. Kritik keras Said yang sangat menusuk itu mau tak mau sangat mengguncangkan sendi-sendi kajian Barat terhadap dunia Timur. Hasilnya, di kalangan banyak sarjana Barat yang biasa disebut orientalis, istilah orientalisme menjadi sesuatu yang pejoratif, jika tidakdisgusting.[6]

Oksidentalisme Sebagai Jawaban

         Sejak penjajahan Barat, baik melalui pemikiran dan kekuatan ideologi (Kapitalisme dan Sosialisme) yang menguasai kawasan muslim, lambat laun membangkitkan umat dari tidur panjang sejarah peradaban. Modernitas telah menjadi realitas yang tidak bisa lagi ditolak kemunculannya, dan menjadi tantangan besar agama-agama dalam menjawabnya. Lalu, dalam dunia Muslim diperhadapkan pada dua masalah besar, yaitu melawan hegemoni Barat  dan menumbuhkan tradisi pemikiran dengan pendekatan ijtihad dan rasionalisme dalam metode berfikir umat menuju peradaban Islam. Oksidentalisme dan Kiri Islam Hassan Hanafi, gagasan Hassan Hanafi yang lebih banyak berorientasi pada praksis dan wacana pembebasan. Orang banyak mengkritik Hassan Hanafi karena tidak adanya metodologi yang dipakai dalam menganalisa relitas sosial dan menafsirkan teks keagamaan. Ia sering mengatakan bahwa sesungguhnya tak ada metodologi yang dipakainya. Penulis bernganggapan bahwa apa yang selama ini dilakukan olehnya adalah sebagai pembuka atas keadaan umat Islam dari keadaan inferior menjadi setara dengan Barat, dari kegelapan intelektual menuju pencerahan wacana keilmuan, untuk membangun sebuah peradaban yang baru.

         Kiri Islam lahir dari kesadaran penuh atas posisi tertindas umat Islam, untuk kemudian melakukan rekonstruksi terhadap seluruh bangunan pemikiran Islam tradisional agar dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan. Upaya rekonstruksi ini adalah suatu keniscayaan karena bangunan pemikiran Islam tradisional yang  sesungguhnya satu bentuk tafsir justru menjadi pembenaran atas kekuasaan yang menindas. Upaya rekonstruksi ini diawali dengan menjaga jarak terhadap Asy’arisme, prmikiran keagamaan resmi yang telah bercampur dengan tasawuf dan menajdi ideologi kekuasaan, serta mempengaruhi perilaku negatif rakyat untuk hanya menunggu perintah dan ilham dari langit.

         Secara singkat dapat dikatakan, Kiri Islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam, dan kesatuan umat.[7] Pilar pertama adalah revitalisasi khasanah Islam klasik. Hal ini sebagian sudah dijelaskan pada paragraf di atas. Hassan Hanafi menekankan perlunya rasionalisme, karena rasionalisme merupakan keniscayaan untuk kemajuan dan kesejahteraan Muslim serta untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Pilar kedua adalah perlunya menentang peradaban Barat. Hassan Hanafi mengingatkan bahaya imperalisme kultural Barat, dan dia mengusulkan “Oksidentalisme”, yang pembahasannya akan diulas di akhir makalah ini. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia termasuk Islam. Ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks (nash), dan mengusulkan suatu metode tertentu dalam melihat realitas dunia kontemporer. Jadi, ada tiga pilar atau agenda, yaitu : sikap kita terhadap tradisi lama, sikap kita terhadap tradisi Barat, dan sikap kita terhadap realitas.

         Sebelum melangkah pada oksidentaisme, kita perlu bahas dahulu apa yang menjadi pemahaman Hassan Hanafi mengenai tradisi (turats). Tradisi, menurutnya, bukanlah sekedar barang mati yang telah ditinggalkan orang-orang terdahulu. Pernyataan ini persis sama seperti pengakuan Al-Jabiri, yaitu bahwa tradisi adalah barang hidup yang selalu menyertai kekinian kita. Tradisi adalah elemen-elemen budaya, kesadaran berfikir, serta potensi yang hidup, dan masih terpendam dalam tanggung jawab generasi sesudahnya. Dia adalah sebagai dasar argumentatif, dan sebagai pembentuk “pandangan dunia” serta membimbing perilaku bagi setiap generasi mendatang.

         Tradisi ternyata telah banyak dicemari oleh hegemoni feodalisme dan menjadi kekuatan kekuasaan yang berkedok agama. Sehingga perlu direvitalisasi menjadi kekuatan yang membebaskan. Tradisi, pada dasarnya tidak bernilai. Kecuali jika ia dapat menjadi sarana yang dapat memberikan teori aksi negara Arab dalam merekonstruksi manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Proyek Hassan Hanafi dimaksudkan untuk merekonstruksi, menyatukan, dan mengintepretasikan seluruh ilmu peradaban Islam bedasarkan kebutuhan modern untuk dijadikan sebagai ideologi manusia, untuk menuju kesempurnaan hidup. Hassan Hanafi juga bermaksud merekonstruksi tradisi kebudayaan Barat yang dicirikannya sebagai kebudayaan murni historis, di mana wahyu Tuhan tidak dijadikan sebagai sentral peradaban.[8] Hanafi sedang mendekonstruksi bangunan pemikiran Islam klasik yang mati fungsi peradabannya, di samping juga mendekonstruksi klaim-klaim universalitas dan hegemoni wacana yang dilakukan Barat, melalui pemikiran dan kebudayaan werternis. Pandangan obyektif dan kritis dalam pemikiran Hassan Hanafi adalah bagaimana agenda “oksidentalisme” menjadi kekuatan wacana penyeimbang dalam melihat Barat dan upaya westernasasi.

         Seperti dijelaskan Hassan Hanafi, Oksdentalisme adalah wajah lain dan tandingan bahkan berlawanan dengan Orientalisme. Orientalisme melihat Timur sebagai the other, maka Oksidentalisme bertujuan mengurai simpul sejarah yang mendua antara ego dengan the other, dan dialektika antara kompleksitas inferioritas pada ego dengan kompleksitas superioritas pada pihak the other. Oreintalisme lama adalah pandangan ego Eropa terhadap the other non Eropa, subyek pengkaji terhadap obyek yang dikaji. Di sini terjadi superioritas Barat dalam melihat Timur. Hal demikian dibalikkan denganOksidentalisme, yag tugasnya yaitu mengurai inferioritas sejarah hubungan ego dengan the other, menumbangkan superioritas the other Barat dengan menjadikannya sebagai obyek yang dikaji, dan melenyapkan infererioritas kompleks ego dengan menjadikannya sebagai subyek pengkaji. Hanya saja Oksidentalsime kali ini dibangun di atas ego yang netral dan tidak berambisi merebut kekuasaan, dan hanya menginginkan pembebasan. Ia juga tidak ingin mendiskreditkan kebudayaan lain, dan hanya ingin mengetahui keterbentukan dan struktur peradaban Barat. Seperti diklaim oleh Hassan Hanafi, ego Oksidentalisme lebih bersih, obyektif, dan netral dibadindingkan ego Orientalisme.

         Pemikiran Hassan Hanafi juga dilandasi oleh penafsiran secara hermeneutik terhadap teks keagamaan (tradisi keilmuan Islam lama) agar didapatkan pemahaman yang hidup dalam memberikan kontribusi bagi pembebasan. Oksidentalsime adalah bagian dari Kiri Islam, yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif umat Islam dalam membaca tradisinya sendiri dan tradisi the other. Pemikiran beliau juga bermuatan rasional, karena jika masih menggunakan baju konservatisme agama maka tradisi tidak akan berbicara apa-apa. Teks itu adalah barang mati, yang hidup adalah makna dan intepretasi baru. Tugas kita adalah bagaimana menghidupkan teks dalm tradisi itu menjadi relevan dan berguna bagi kondisi saat ini. Pemikiran Hassan Hanafi perlu diapresiasi lebih mendalam, karena ia adalah pelanjut bagi tradisi pemikiran Islam kontemporer yang kritis.

KESIMPULAN

         Orientalis lebih kental nuansa politis dan tendensi kencurigaannya terhadap Islam. Islamisis tampak lebih bersahabat. Kajiannya lebih bersifat ilmiah, daripada penyelidikan demi kepentingan imperialisme. Belakangan ini sarjana muslim mengeritik orientalisme bukan karena tesis-tesis para orientalis itu tidak lebih akurat dibandingkan antitesis mereka, tapi tak jarang justru karena mereka memang sadari awal tidak ingin mendengar pendekatan kritis dan ilmiah apapun terhadap agama. Terlebih bila kritik itu datang dari luar Islam. Padahal, faktanya tak jarang pengkajian ilmiah atas Islam yang dilakukan oleh kalangan orientalis jauh lebih bersungguh-sungguh dan bermutu dibandingkan kajian mereka yang hanya bersikap reaktif saja. Tapi sebetulnya, sejarah tanggapan yang reaktif, baik yang bersifat psikologis maupun ideologis terhadap orientalisme, baru berkembang di dunia Arab setelah tahun 1960-an. Sebelum 1960-an, reaksi terhadap orientalisme jauh lebih berbobot dan cukup positif.

         Respons yang alamiah tatkala intelektual dunia Timur juga melakukan kajian-kajian tentang peradaban Barat “sebagaimana orang Barat melakukannya terhadap Timur” dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Di samping telah menunjukkan semangat keterbukaan dan ilmiah untuk memahami orang lain, apa yang mereka lakukan juga menunjukkan bahwa dialog antarperadaban dan antarkebudayaan mungkin dilaksakan dengan cara-cara yang beradab dan ilmiah.

        Menurut saya, kesalahpahaman persepsi maupun corak pemikiran antara Barat dan umat Islam berakar dari kagagalan dialog eksistensial dan tumbuhnya prasangka yang berlebihan. Alhasil, melahirkan generasi fundamentalisme agama yang akut. Sehingga menjadi tepat bahwa yang terjadi sesungguhnya ialah fenomena benturan fundamentalisme. Maka pada dasarnya, kebesaran orientalisme dilihat dari segi historisnya dibandingkan dengan oksidentalisme yang masih baru ini dapat kita jadikan ukuran bahwa kedua masih belum selesai. Kedua-duanya tetap berkembang sesuai dengan arah kecendrungan para intelektual dalam mengkaji barat ataupun timur. Dan akhirnya, oksidentalisme turut andil dalam membangun peradaban dunia melalui transformasi lintas-kebudayaan melalui sikap saling menghargai dan egaliter. Di sinilah kerangka rekonstruksi dialog Islam dan Barat mesti diletakkan. Tentunya, persoalan ini menjadi tangung jawab kita bersama untuk membangun peradaban baru yang lebih baik dan dinamis.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Samurai, Qasim. Bukti-bukti Kebohongan Orientalis. Jakarta: Gema Insani Press. 1996.

Boullata, Issa J. Dekonstruksi Tradisi, Gelegar Pemikiran Arab Islam. Yogyakarta: LKIS, 2001.

Ghurab, Ahmad Abdul Hamid. Menyingkap Tabir Orientalisme. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993.

Jamilah, Maryam. Islam dan Orientalisme, Sebuah Kajian Analitik. Terj. Machnun Husein, Jakarta: Rajawalipers.

Rais, M. Amien. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan. 1986.

Said, Edward W. Orientalisme. Bandaung: Pustaka Salman. 2001.

Shimogaki, Kazuo. Kiri Islam, antara Modernisme dan Postmodernisme. Yogyakarta: LKIS, 2001, cet. V.


[1] Qasim Al-Samurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis. Jakarta: Gema Insani Press. 1996, hlm. 1.

[2] M. Amien Rais, Cakrawala Islam. Bandung: Mizan, 1986,  hlm. 241.

[3] Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalisme. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993, hlm. 21.

[4] Maryam Jamilah, Islam dan Orientalisme, Sebuah Kajian Analitik. Terj. Machnun Husein, Jakarta: Rajawalipers, 1994, hlm. 11.

[5] Edward W Said, Orientalisme, Bandaung; Pustaka Salman. 2001, hlm. 16

[6] Azyumardi Azra, Historiografi, hlm. 187.

[7] Kazuo Shimogaki, Kiri Islam. antara Modernisme dan Postmodernisme. Yogyakarta : LKIS. 2001. cet. V, hlm. 7-8.

[8] Issa J. Boullata. Dekonstruksi Tradisi, Gelegar Pemikiran Arab Islam. Yogyakarta: LKIS, 2001. Hlm, 62.