Studi Lapangan di LSM “Rifka Annisa”

         Di Indonesia banyak sekali organisasi-organisasi wanita, baik itu yang berbasiskan agama, sosial, ekonomi dan politik. Kesemuanya merupakan gerakan civil society yang memfokuskan kegiatan mereka pada usaha pemberdayaan perempuan termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat Rifka Annisa. Nama Rifka Annisa sendiri berarti “Teman Perempuan”. Sebuah organisasi yang lahir dari non pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 Agustus 1993.  Rifka Annisa merupakan Suatu Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerja untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan, melawan ketertindasan permpuan atas budaya partiarki terutama dalam masalah kekerasan dalam rumah tangga atau sering disebut juga KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan realitas gunung es, hanya bagian atasnya yang bisa dilihat tapi jika kita telusuri lebih jauh lagi mungkin tidak akan terbayangkan betapa besarnya hal tersebut.

         Organisasi ini berdiri dari beberapa aktivis perempuan di Yogyakarta, di antaranya Suwarni Angesti Rahayu, Sri Kusyuniati, Latifah Iskandar, Desti Murdijana dan Sitoresmi Prabuningrat. Para perempuan aktivis ini bermaksud untuk menyediakan dukungan untuk perempuan korban kekerasan. Gagasan pendirian organisasi ini muncul dari kepedulian yang dalam terhadap kecenderungan budaya patriarkhi yang pada satu sisi memperkuat posisi laki-laki dan memperlemah posisi perempuan pada sisi yang lain. Sebagai akibatnya perempuan menjadi rentan terhadap kekerasan. Selain menyediakan layanan untuk perempuan korban kekerasan (sebagai pusat krisis untuk perempuan), baru-baru ini Rifka Annisa menetapkan untuk menjadi pusat pengembangan sumberdaya manusia untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

         Sebagai pusat krisis untuk perempuan dan pusat pengembangan sumber daya manusia, Rifka Annisa menyediakan beberapa layanan diantaranya konseling atau konsultasi psikologis bagi korban kekerasan (perempuan) maupun pelaku kekerasan (laki-laki). Layanan ini dapat dilakukan melalui beberapa cara di antara tatap muka, melalui media komunikasi dan kunjungan ke rumah korban kekerasan. Tidak hanya itu Rifka Annisa juga menyediakan layanan pendampingan hukum yang meliputi konsultasi hukum dan pendampingan hukum dalam proses-proses peradilan apabila klien memutuskan untuk membawa masalahnya ke pengadilan, penyediaan rumah aman untuk perempuan korban kekerasan apabila terancam keselamatannya atau tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan komunitas.

         Sejak tahun 1997 Rifka Annisa menganggap bahwa laki-laki adalah mitra potensial dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sehingga Rifka Annisa melibatkan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Program atau layanan ini dikenal dengan ”program pelibatan laki-laki”. Dalam rangka meningkatkan kesadaran laki-laki Rifka Annisa telah menerbitkan buku ”menjadi suami yang sensitif gender”. Dan sebagai tindak lanjut dari program pelibatan laki-laki ini, tahun 2006 Rifka Annisa telah memulai menyediakan layanan untuk laki-laki pelaku kekerasan. Penyediaan layanan ini berdasarkan data bahwa 90 persen perempuan yang menjadi korban kekerasan suami memutuskan kembali ke suami dan tidak ada penanganan untuk suami pelaku kekerasan.

         Tidak hanya itu, Rifka Annisa juga menyediakan Layanan Konsultansi untuk beberapa program seperti assessment, penelitian, evaluasi atau penguatan kapasitas. Rifka Annisa memiliki kelompok ahli di berbagai bidang seperti gender, isu perempuan dan anak, advokasi dan pengorganisasian masyarakat. Melalui program layanan ini memungkinkan Rifka Annisa untuk berbagi keahlian dengan organisasi-organisasi lain dan kelompok-kelompok masyarakat.

         Rifka Annisa sebuah lembaga swadaya yang berkonsentrasi pada advokasi perempuan di Yogyakarta, telah lama menggunakan media film. Dalam tajuk Untuk Perempuan di tahun 2005, Rifka meluncurkan film berdasarkan kisah nyata tentang ketertindasan perempuan. Langkah Rifka diharapkan dapat mendobrak kemapanan berpikir di masyarakat, yang membiarkan ketertindasan perempuan sebagai hal yang bukan ketertindasan. Lebih dari itu, pemilihan media film dimaksudkan untuk memudahkan menyebarkan pemahaman bahwa kekerasan terhadap perempuan harus segera dihentikan.

         Ada perempuan yang melancarkan protes dengan cara berdiam dan menolak untuk komunikasi. Ada pula yang mengungkapkan kemarahannya dan menyuarakan keinginan-keinginannya. Namun, bentuk-bentuk perlawanan individu ini mungkin lebih berfungsi mengurangi ketegangan, tidak berpengaruh terhadap status quo dan tidak mengakibatkan perubahan yang dikehendaki. Alternatif lainnya ialah bentuk-bentuk perlawanan secara kolektif yang telah terbukti efektif dalam mendorong perubahan. Pencapaian hal-hal, misalnya hak pilih, hak kepemilikan, upah yang lebih tinggi, dan kampanye. Dengan melakukan aksi protes dan inisiatif sosial, budaya atau ekonomis sekaligus, maka suatu proses penyadaran terlibat. Bilamana kegiatan ini cukup kuat, seringkali perempuan membentuk suatu organisasi untuk mendapat legitimasi hukum dan pengaruh publik.

         Dengan demikian, partisipasi mereka dalam sistim politik tercapai. Ketika berada dalam formasi gerakan, akan ada banyak inisiatif di arena sosial, ekonomi, dan politik yang akan membantu perempuan membentuk kesadaran, menciptakan ruang gerak ekonomi dan sosial, serta mendorong reformasi politik. Artinya, jika tergabung dalam sebuah gerakan, perempuan memiliki wadah untuk menyampaikan ide dan gagasannya secara terbuka, dan ada mekanisme untuk melakukan perlawanan secara masif. perkumpulan perempuan-perempuan swakarya merupakan contoh tentang bagaimana suatu kegiatan ekonomi para perempuan dapat tumbuh dengan menyertakan kegiatan sosial dan budaya. Sesudah tumbuh menjadi organisasi besar yang beranggotakan ribuan perempuan swakarya, mereka mempunyai kekuatan politik untuk memperjuangkan kebijakan umum yang menunjang perempuan swakarya. Dengan cara mempertahankan diri sebagai badan yang otonom.

         Harus diakui gerakan perempuan dan kesadaran untuk melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan di bidang publik dipahami oleh kalangan terbatas dalam masyarakat. Mereka adalah kalangan kelas menengah, kelompok terdidik atau profesional, dan mayoritas mereka yang berusia muda yang umumnya berada di perkotaan. Hal ini berarti ada mayoritas warga masyarakat pedesaan, mereka yang berusia lebih tua dan berpendidikan rendah, gerakan perempuan tidak menemukan bentuk yang nyata. Memang sangat kasat mata, persoalan partisipasi perempuan pedesaan dalam mengambil keputusan di bidang publik masih menjadi problem yang belum terselesaikan. Harus diakui, budaya patriarkhi yang mengakar dan sistem politik yang didominasi oleh laki-laki memiliki dampak negatif besar bagi upaya perempuan pedesaan untuk mendapatkan hak dalam menyampaikan aspirasinya di ruang publik. Selama ini kekerasan terhadap perempuan juga anak, khususnya dalam keluarga, selalu mengidentikkan laki-laki sebagai akar masalahnya. Padahal, secara subtantif, kaum laki-laki adalah sosok yang mampu melindungi dan mengayomi.

Dalam aksinya memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan ini, puluhan lelaki beserta keluarganya berkumpul di taman parkir Abu Bakar Ali, kemudian longmarch menyusuri kawasan Malioboro menuju perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Massa juga membawa kereta bayi, payung serta mengenakan celemek sebagai simbol, jika lelaki juga harus mampu dan peduli terhadap keluarga, khususnya terhadap perempuan dan anak. Aksi ini diakhiri dengan penandatanganan dalam selembar spanduk bagi para pejalan kaki untuk mendukung aksi laki-laki peduli keluarga ini.

         Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, dengan menjadikan kaum perempuan sebagai kelompok sasaran dominan, setiap tahun dilancarkan oleh lembaga dan organisasi pembela Hak Asasi Manusia perempuan di Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang jatuh setiap tanggal 25 Nopember.  Salah satu organisasi yang terdepan dalam menyikapi dan menindaki kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di negeri ini adalah Rifka Annisa, yang sejak tahun 1993 berperan nyata dalam mendampingi para perempuan korban kekerasan di Yogyakarta dan sekitarnya.

         Lebih dikenal masyarakat sebagai sebuah women’s crisis center, Rifka Annisa melalui rangkaian kegiatannya tekun membuka wawasan perempuan akan rawannya mereka pada kekerasan berbasis gender di dalam kehidupan berelasi sehari-hari. Berkat perannya yang terfokus ini, kaum perempuan dampingan mereka kini menjadi lebih sadar akan hak-hak asasi mereka sebagai manusia setara dan lebih peka pada kondisi-kondisi yang cenderung melangkahi hak-hak mereka tersebut. Namun, setelah bertahun-tahun berkampanye, Rifka Annisa tergugah oleh suatu kenyataan.

         Kampanye untuk membangun kesadaran anti-kekerasan selama ini memang memicu keberdayaan di kalangan perempuan sebagai khalayak sasaran utama. Akan tetapi, kampanye  ini tidak membuka ruang bagi kaum lelaki untuk ikut berproses, mereka luput dari dampak kampanye. Pakem yang cenderung menyamakan ‘kekuasaan’ dengan ‘kekerasan’  ternyata tetap hidup kental di dalam relasi-relasi antar lelaki dan tetap menjadi sikap sehari-hari untuk mengabsahkan kekuasaan lelaki dalam berelasi dengan perempuan. Selama pola ini masih hidup, betapapun pemberdayaan diri yang dicapai oleh pihak perempuan, kekerasan akan tetap diabsahkan dalam relasi-relasi lelaki dengan perempuan. Memaklumi ini, Rifka Annisa mengambil kebijakan membuka ruang bagi kaum lelaki untuk ikut berproses dalam memaknai hakekat kekerasan dan menumbuhkan sikap anti kekerasan terhadap perempuan sebagai sesama insan manusia.

         Untuk mewujudkan kebijakan itu, pada kampanye anti kekerasan terdahap perempuan tahun 2008, Rifka Annisa meluncurkan anak-kampanye dengan judul berbahasa gaul indo-lish (Indonesia-English) “Real Boys Care Others”, yang substansinya mengandung pesan bahwa “lelaki tulen itu sayang sesama manusia”. Pesan ini merupakan tandingan terhadap gambaran lelaki sejati adalah manusia yang identik dengan kekerasan, yang semena-mena terhadap hak-hak asasi  manusia lain, atau diistilahkan sebagai maskulinitas negatif.

         Secara strategis Rifka Annisa membatasi kesertaan pada kaum lelaki remaja saja, yakni lelaki yang berada pada usia-usia yang sedang ‘belajar tentang lawan jenis’ dan sedang mencari-cari pola relasi dalam pergaulan. Masa yang boleh dikatakan rawan inilah yang dinilai oleh Rifka Annisa sebagai kurun usia yang relatif terbuka pada tawaran nilai-nilai baru. Melalui anak-kampanye “Real Boys Care Others”, Rifka Annisa menawarkan nilai-nilai yang beritikad menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan antar insan manusia, yang pada gilirannya akan melahirkan sikap dan perilaku yang saling menghormati, bebas dari kekerasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s