IBNU KHALDUN DAN PEMIKIRAN SOSIOLOGISNYA

IBNU KHALDUN DAN PEMIKIRAN SOSIOLOGISNYA[1]

Oleh: Maryono[2]

          A.    BIOGRAFI IBNU KHALDUN

          Nama lengkapnya adalah Abu Zaid Abdurrahman Ibn Muhammad Ibn Khaldun Waliuddin Al-Tunisi Al-Handrami.[3] Lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M. Nenek moyangnya berasal dari Handramaut, Yaman, yang berimigrasi ke Sevilla, Andalusia Sapanyol. Namun ia dan keluarganya harus pindah ketika wilayah Sevilla telah ditaklukkan Kristen dan dikuasai Kristen tahun 1248 M setelah hancurnya Dinasti Muwahiddun.[4]

          Ibnu Khaldun berasal dari garis keluarga Ilmuwan atau Intelektual. Kakeknya Muhammad sangat gemar mempelajari ilmu-ilmu keagamaan. Ayahnya juga yang bernama Muhammad ahli dalam bidang ilmu Tafsir dan ilmu-ilmu lainnya yang berkaitan dengannya, seperti Nahwu, Shafar Retorika dan logika (mantiq).  Ayahnyalah yang menjadi guru utama, dalam beajar menghafal al-Qur’an, mempelajari Fisika dan Matematika dari ulama-ulama besar pada masanya.  Di antara guru-guru Ibnu Khaldun adalah Muhammad bin Saad Burral Al-Anshari, Muhammad bin Abdissalam, Muhammad bin Abdil Muhaimin Al-Hadrami dan Abu Abdillah Muhammad bin Ibrohim Al-Abilli. Dari merekalah Ibnu Khaldun mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan.

          Pada tahun 1349 setelah kedua orang tua Ibnu Khaldun meninggal dunia Ibnu Khaldun memutuskan untuk pindah ke Marokko, namun dicegah oleh kakaknya, baru tahun 1354 Ibnu Khaldun melaksanakan niatnya pergi ke Marokko, dan di sanalah Ibnu Khaldun mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tingginya. Selama menjalani pendidikannya di Marokko, ada empat ilmu yang dipelajarinya secara mendalam yaitu: Kelompok bahasa Arab yang terdiri dari: Nahwu, Shorof, Balaghoh, Khitabah dan Sastra. Kelompok ilmu syari’at terdiri dari: Fiqh (Maliki), Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh dan ilmu Al-Qur’an. Kelompok ilmu ‘aqliyah (ilmu-ilmu Filsafat) terdiri dari: Filsafat, Mantiq, Fisika, Matematika, Falak, Musik, dan Sejarah.

          Kelompok ilmu kenegaraan terdiri atas: ilmu Administrasi, Organisasi, Ekonomi Dan Politik.  Dalam sepanjang hidupnya Ibnu Khaldun tidak pernah berhenti belajar, sebagaimana dikatakan oleh Von Wesendonk: bahwa sepanjang hidupnya, dari awal hingga wafatnya Ibnu Khaldun telah dengan sungguh-sungguh mencurahkan perhatiannya untuk mencari ilmu.  Sehingga merupakan hal yang wajar apabila dengan kecermelangan otaknya dan didukung oleh kemauannya yang membaja untuk menjadi seorang yang alim dan arif, hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad Ibnu Khaldun telah mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

          Saat usianya 20 tahun, Ibnu Khaldun mulai tertarik dan terlibat dengan kehidupan politik, sehingga pada tahu 755 H./1354 M., karena kemampuannya Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretaris Sultan di Maroko, namun jabatan ini tidak lama di pangkunya, karena pada tahun 1357 Ibnu Khaldun terlibat dalam persekongkolan untuk  menggulingkan Amir bersama Amir Abu Abdullah Muhammad, sehingga ia ditangkap dan dipenjarakan, namun akhirnya dia dibebaskan. Sultan meninggal dunia dan kekuasaan direbut oleh Al-Mansur bin Sulaiman, Ibnu Khaldun menggabungkan diri dengan Al-Mansur dan dia diangkat menjadi sekretarisnya. Namun tidak lama kemudian Ibnu Khaldun meninggalkan Al-Mansur dan bekerjasama dengan Abu Salim. Pada tahun 1361 karena terjadi intrik politik yang menyebabkan terbunuhnya Abu Salim, lagi-lagi Ibn Khaldun dicurigai, dan memaksanya untuk pindah ke Granada.[5]

          Pada waktu itu Abu Salim menduduki singgasana dan Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretarisnya dan dua tahun kemudian diangkat menjadi Mahkamah Agung. Di sinilah Ibnu Khaldun menunjukkan prestasinya yang luar biasa, tetapi itu-pun tidak berlangsung lama, karena pada tahun 762 H./1361 M., timbul pemberontakan di kalangan keluarga istana, maka pada waktu itu Ibnu Khaldun meninggalkan jabatan yang disandangnya.

          Setelah kurang lebih dua decade ia aktif di bidang politik, Ibnu Khaldun kembali ke Afrika Utara. Disana ia mulai melakukan studi menulis intensif selama 5 tahun. Dari sinilah namanya kemudian dikenal sangat luas.[6] Di Mesir Ibnu Khaldun disambut dengan hangat. Ilmuwan yang sarjana ini sudah tidak asing lagi di sana karena karya-karyanya sudah tersebar di sana. Sebagai orang baru Ibnu Khaldun langsung diberi dua jabatan penting yaitu sebagai hakim tinggi dan sebagai guru besar di perguruan Al-Azhar. Setelah sekian lama berhidmat untuk ilmu dan mengabdi kepada Afrika Utara dan Andalusia ilmuwan besar dan terkemuka itu meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 25 Ramadhan 808 H. bertepatan dengan tanggal 17 Maret 1406 M. dalam usianya yang ke-76, dan dimakamkan di pekuburan orang-orang sufi Babul Nashr di Kairo.

           B.     KARYA-KARYA IBNU KHALDUN

          Karya-karya Ibnu Khaldun yang terkenal di antaranya adalah:

  1. Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab Al-‘Ibar, yang terdiri dari bagian Muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku inilah yang menjadikan namanya terkenal. Adapun tema Muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.
  2. Kitab Al-‘Ibar, wa Diwan Al-Mubtada’ wa Al-Khabar, fi Ayyam Al-‘Arab wa Al-‘Ajam wa Al-Barbar, wa Man Asharuhum min Dzawi As-Sulthani Al-‘Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku pertama, adalah sebagai kitab Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid, yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Di samping itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia, Yahudi (Israel), Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orang Eropa). Kemudian Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara-negara Maghribi (Afrika Utara).
  3. Kitab Al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqon wa Ghorban atau disebut al-Ta’rif, dan oleh orang-orang Barat disebut dengan Autobiografi , merupakan bagian terakhir dari kitab al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibnu Khaldun. Dia menulis autobiografinya secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah, karena terpisah dalam bab-bab, tapi saling berhubungan antara satu dengan yang lain.

           C.    PEMIKIRAN SOSIOLOGI IBNU KHALDUN

          Ibnu Khaldun banyak dikenal sebagai ahli sejarah dan ahli sosiologi. Karena dari beberapa karyanya ia meneliti dan mengamati masyarakat disaat itu. Dari karyanya Muqaddimah secara panjang lebar Ibnu Khaldun memaparkan ide-idenya tentang masyarakat yang diamatinya pada ssat itu. Ia menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara. Dalam Muqaddimah tersebut terdapat tiga pokok bahasan. Pertama, pengantar, bab kedua sejarah umum, dan bab ketiga sejarah maroko (Magrib).[7]

          Adapun pembahasan dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun, yaitu:

  1. Asal Mula Negara/daulah (Rural Civilizations)
  2. Sosiologi Masyarakat (Human Society; Ethnology And Anthropology)
  3. Peradaban masyarakat Badui  Kota (Society of Urban Civilization)
  4. Solidaritas Sosial
  5. Khilafah, Imamah, Sulthanah
  6. Bentuk-Bentuk Pemerintahan (Forms of Government and Forms of Institutions)
  7. Tahapan Timbul Tenggelamnya Peradaban (Teori Siklus)

          Selain itu, Ibnu Khaldun menggunakan ide politiknya dan pengetahuannya tentang tentang masyarakat Maroko. Ia mendeskripsikan pemikirannya tentang proses sejarah peradaban masyarakat. Ia juga memiliki pengetahuan yang baik tentang eksplanasi dari negara yang alami hingga dikenal dengan peletak disiplin sosiologi baru (the founder of the new discipline of sociology). Ia menciptakan disiplin ilmu baru yang berasal dari spirit Al-Qur’an.

          “Ibn Khaldūn fully realised that he had created a new discipline, ‘ilm al-’umran, the science of culture, and regarded it as surprising that no one had done so before and demarcated it from other disciplines. This science can be of great help to the historian by creating a standard by which to judge accounts of past events. Through the study of human society, one can distinguish between the possible and the impossible, and so distinguish between those of its phenomena which are essential and those which are merely accidental, and also those which cannot occur at all.” [8]

          Dalam pengembangan sebuah pemerintahan dan hubungan antara pemerintah dan masyarakat ibnu khaldun percaya bahwa”

          “. . . human society is necessary since the individual acting alone could acquire neither the necessary food nor security. Only the division of labour, in and through society, makes this possible. The state arises through the need of a restraining force to curb the natural aggression of humanity. A state is inconceivable without a society, while a society is well-nigh impossible without a state. Social phenomena seem to obey laws which, while not as absolute as those governing natural phenomena, are sufficiently constant to cause social events to follow regular and well-defined patterns and sequences. Hence a grasp of these laws enables the sociologist to understand the trend of events. These laws operate on masses and cannot be significantly influenced by isolated individuals.[9]

          Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: “Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tetapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.”

          Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan. Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah. Ketiga, mengupas lembaga- lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski  hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar,  namun Al-Muqaddimah lebih terkenal. Sebab,  seluruh bangunan  teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis. Dengan modal pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Muqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial. Bahkan Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan bahwa “Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng”.

          Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al- Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; “Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.” Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi  intelektualitas positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).

          Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi  teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial.

 

          DAFTAR PUSTAKA

Baali, Fuad, Society, State and Urbanism: Ibnu Khaldun’S Sociologicat Thought. New York: State University of New York Press, 1988.

Khaldun, Ibn, The Muqaddimah: An Introduction to History, (trans. Franz Rosenthal), Bollingen Series Princeton University Press, 1989.

______, Muqaddimah Ibn Khaldun, (terj. Ahmadie Thoha), Jakarta: Pustaka Firdaus,  2000.

Ma’arif, Ahmad Syafi’I, Ibnu Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat Dan Timur, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Raliby, Osman, Ibnu Chaldun Tentang Masjarakat dan Negara. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1965.

Hozien, Muhammad,” Ibn Khaldun: His Life and Works” dalam  http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=244 diakses tanggal 12 Maret 2011


[1] Tulisan ini disampaikan dalam diskusi tunas hijau mahasiswa sosiologi agama tanggal 24 Maret 2011 di Selatan climbing.

[2] Mahasiswa Sosiologi Agama semester VI Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[3] Fuad Baali, Society, State and Urbanism: Ibnu Khaldun’S Sociologicat Thought.(New York: State University of New York Press, 1988) hlm.1.

[4] Osman Raliby, Ibnu Chaldun Tentang Masjarakat dan Negara.( Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1965) hlm. 3.

[5] Ahmad Syafi’i Ma’arif. Ibnu Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat Dan Timur, (Jakarta:

Gema Insani Press, 1996), hlm. 13.

[6] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. ( Jakarta: Prenada Media, 2004) hlm. 08.

[7] “Ibn Khaldūn’s magnum opus al-Muqaddima can be divided into three parts. The first part is the introduction, the second part is the universal history, and the third part is the history of the Maghrib.”  Muhammad Hozien,,” Ibn Khaldun: His Life and Works” dalam  http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=244 diakses tanggal 12 Maret 2011

[8] Muhammad Hozien,,” Ibn Khaldun: His Life and Works” dalam  http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=244 diakses tanggal 12 Maret 2011

[9] Ibid.

3 responses to “IBNU KHALDUN DAN PEMIKIRAN SOSIOLOGISNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s